Beda Kelas Kereta Api Beda Pelayanan

Naik bis atau kereta api? Kereta api (KA) dooong. Selain murah (terutama KA ekonomi), pemandangan sepanjang jalan lebih indah berupa sawah-sawah, tidak khawatir muntah karena tidak bau bensin dan relatif aman dari asap rokok. Dan pastinya, khusus KA Ekonomi non AC tidak akan mengalami kenaikan harga tiket ketika hari raya.

Ada 3 kelas KA yaitu kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi. Apa sih yang membedakan ketiga kelas itu? Cekidot yuk! (Asli! Saya tidak nyaman dengan istilah kelas. Kesannya diskriminatif sekali. Tapi ya sudahlah, ini istilah yang dipakai pihak PT. KAI.

Pertama: Harga

Kelas eksekutif merupakan kelas dengan harga tiket termahal. Kelas eksekutif ini dibagi menjadi A dan B. Kereta api eksekutif A memiliki rangkaian gerbong yang semuanya adalah kelas eksekutif. Harganya bisa 2 kali lipat harga kelas bisnis. Nah, kalau eksekutif B, rangkaian gerbongnya terdiri dari kelas eksekutif, bisnis bahkan beberapa ada kelas ekonomi AC-nya juga. Harganya sih sekitar 40% lebih tinggi dari harga bisnisnya.

Contohnya kereta dari Bandung ke Yogyakarta untuk keberangkatan 5 Agustus 2012. Kereta api eksekutif A seperti Turangga dan Argowilis, harga tiketnya Rp 285.000 (Eh, H-7 lebaran harganya Rp 470.000, dan hari H seharga Rp 510.000). KA eksekutif B seperti Lodaya yang memiliki rangkaian bisnis, harganya untuk kelas eksekutif Rp 200.000 dan bisnis Rp 135.000. Sedangkan contoh Eksekutif B yang memiliki ekonomi AC-nya adalah Malabar. Harga tiket eksekutif Rp 220.000, bisnis Rp 160.000 dan ekonomi Rp 110.000.

Kalau kelas ekonomi harganya super duper murah. Nih ya, Bandung – Yogyakarta harganya hanya Rp 35.000! Murah banget kan?! Emang bener angkutan rakyat.

KA Ekskutif A

KA Ekskutif B

Kedua: Fasilitas

Kursi empuk layaknya bis antar kota eksekutif, bantal, kamar kecil yang harum, AC, dan televisi flat yang ditempel di bagian depan gerbong merupakan fasilitas yang diperoleh kelas eksekutif. Makanan yang ditawarkan lebih beragam dan high class (pastinya dengan high price). Petugas menawarkan makanan hanya dengan menyodorkan menu yang mereka miliki. Biasanya yang menawarkan makanan sih Mas-Mas yang masih muda dengan pakaian bersih dan rapi. Hohoho.

Kelas bisnis memiliki tempat duduk yang cukup empuk tapi dengan pelapis kulit biasa. Bedanya dengan kelas ekonomi adalah tempat duduknya bisa dibalik atau diatur berhadap-hadapan dengan tempat duduk di depan atau di belakangnya. Kalau tempat duduk kelas ekonomi, paten tuh duduknya berhadap-hadapan 2 orang-2 orang. Sebagaimana kelas eksekutif, kelas bisnis memiliki 2 lajur tempat duduk yaitu kiri dan kanan dimana masing-masing barisnya terdiri dari 2 tempat duduk di kanan dan 2 tempat duduk di kiri. Sedangkan kelas ekonomi terdiri dari lajur dengan 2 dan 3 tempat duduk.

Di kelas bisnis dan ekonomi ditawarkan juga makanan. Menu yang ditawarkan lebih “murah”. Pakai tanda petik karena mi instan rebus saja harga satu porsinya sampai Rp 10.000 (di kelas eksekutif sekitar Rp 12.000). Mahalnyaaa. Padahal harga normal di warung bubur kacang ijo, semangkuk mi instan rebus sekitar Rp 4.000, sudah menggunakan sawi hijau dan telur. Menu yang biasa ditawarkan pada kelas ini berupa nasi goreng, mi instan, air kopi, air teh atau air jeruk. Dan biasanya mereka membawa serta masakan/minuman yang ditawarkan ke penumpang. Petugasnya? Bapak-bapak dengan seragam yang warnanya sudah mulai pudar.

Pedagang asongan bisa masuk dan menjajakan langsung dagangannya kepada penumpang pada kelas bisnis dan ekonomi. Walau sudah ada peraturan turun ketika kereta akan berangkat, masih ada saja beberapa pedagang yang ikut sampai stasiun-stasiun berikutnya. Terkadang ada petugas keamanan kereta yang mengingatkan.

Pada kelas ekonomi atau bisnis akan Anda temui kamar kecil dengan lobang WC nongkrong, sebuah ember kecil dari seng dengan sebuah gayung plastik. Saya pernah mendapatkan pintunya yang tidak dapat ditutup rapat. Jika baru berangkat dari stasiun pemberangkatan, masih bau karbol karena baru dibersihkan. Beda jika sudah lebih dari separo perjalanan, bau pesing mulai tercium.

Gerbong kereta bisnis lebih bersih dari kereta ekonomi. Tiap gerbongnya dilengkapi kipas angin. Satu gerbong sekitar 5 buah. Kereta api ekonomi umumnya tidak ada kipas angin, namun ada yang menggunakan AC untuk KA ekonomi yang serangkaian dengan gerbong eksekutif (KA eksekutif B).

KA Bisnis

Ketiga: Kemudahan memperoleh tiket

Kereta api eksekutif, bisnis dan ekonomi AC bisa dengan mudah diperoleh karena ada banyak bentuk layanan dan titik penjualan. Selain di stasiun, tiket bisa diperoleh melalui contact center 121/021-121, railbox, kantor pos, indomaret, alfamart, fastpay, citos connection, mobile ticketing online atau rail agent-nya yang tersebar, dan sebagainya. Oya, catatan. Jika membeli selain di stasiun akan ada biaya tambahan. Misalnya di Indomaret, biaya tiket ditambah Rp 7.000. Saya lupa sebagai uang apa gitu. Jadi, kalau malas untuk ngantri di stasiun, bisa membeli melalui tempat-tempat alternatif. Namun, jika belinya banyak, misalnya 10 buah, lumayan juga tuh hitungan akhirnya. Bisa beda Rp 70.000 sendiri.

Tiket KA ekonomi hanya bisa dibeli di stasiun khusus kelas ekonomi. Misalnya stasiun Lempuyangan di Yogyakarta, Kiara Condong di Bandung, Gombong di Surabaya, Pasar Senen di Jakarta. Penjualan biasanya dimulai dari pukul 00.00 WIB. Benar-benar butuh perjuangan deh untuk mendapatkan tiket ekonomi apalagi musim liburan atau hari raya.

Rail Box

Keempat: Waktu tempuh

Pasti dong kelas ekonomi yang paling lama karena harus “mengalah”, memberi jalan kepada kelas-kelas yang ada di atasnya. Hirarkinya bisa lihat pada contoh berikut. Misalnya waktu tempuh kereta api Yogyakarta-Bandung:

Eksekutif Argowilis sekitar 7 jam.

Eksekutif – bisnis Lodaya sekitar 7 jam 24 menit

Eksekutif – bisnis – ekonomi AC Malabar sekitar 8 jam

Bisnis Mutiara Selatan 8 jam 23 menit

Ekonomi Pasundan sekitar 10 jam.

Naaah, kalau terburu-buru tapi uang tidak cukup untuk pesawat, pilih kereta eksekutif. Sebenarnya sih beda tipis, apalagi kalau dapat tiket pesawat promo. Kalau benar-benar tidak punya uang dan tidak dikejar waktu, ekonomi saja. Panas sih kalau perjalanan siang, tapi bisa lebih menikmati pemandangan sawah-sawah yang terbentang karena lebih sering berhenti dan lama.

KA Ekonomi

Katanya, layanan kelas eksekutif terus ditingkatkan misalnya dengan modifikasi interior untuk kelas eksekutif sehingga penumpang merasa lebih nyaman. Semoga segera ada perbaikan untuk kelas bisnis dan ekonomi juga ya. Pastinya, kita sebagai para penumpang pun kudu melakukan perbaikan perilaku. Contohnya, tidak membuang sampah sembarangan atau mencorat-coret gerbong. Well, secara umum, PT. KAI sudah melakukan perbaikan layanan, diantaranya:

  1. Yang bisa masuk peron hanya pemiliki karcis. Pengantar tidak boleh. Sehingga kondisi dalam stasiun tidak sesak. Bahkan di Pasar Senen misalnya, penumpang yang masih lama jadwal keberangkatannya dilarang masuk dan diminta menunggu di ruang tunggu dulu.
  2. Karcis bisa dibeli 90 hari sebelum hari keberangakatan. Ini menghindari antrian panjang dan berdesakan ketika membeli karcis.
  3. Untuk kelas ekonomi, karcis yang dijual sesuai dengan jumlah tempat duduk yang ada, seperti laporan VoA berjudul “Tiket Kereta Api untuk Mudik Lebaran Habis Terjual” pada Sabtu, 14 Juli 2012. PT KAI memberlakukan kapasitas 100 persen atau dengan kata lain tidak ada penumpang yang berdiri selama perjalanan, karena satu tiket hanya berlaku untuk satu tempat duduk.
  4. Patroli petugas keamanan ada pada setiap kereta, termasuk kelas ekonomi juga. Jadi, tenang deh.
  5. Himbauan untuk tidak merokok. Namanya juga himbauan, bukan larangan. Kalau larangan, ketika dilanggar maka akan dihukum. Biasanya penumpang akan memilih menghabiskan rokoknya di dekat pintu.

Ada beberapa tips agar tetap aman ketika menggunakan kereta terutama KA bisnis atau ekonomi, diantaranya:

  1. Sembunyikan apa yang Anda bawa. Maksudnya? Hindari menyebutkan isi tas Anda. “Eeeh, hati-hati meletakkan tas itu. Isinya laptop!” Ini namanya mengundang pencuri.
  2. Hindari memainkan gadget Anda. Apalagi sering dan mahal seperti iPad.
  3. Berhati-hati meletakkan tas tangan. Biasanya kita akan meletakkannya di samping dekat dinding gerbong. Nah, ada beberapa kereta yang memiliki jarak antara dinding dan tempat duduk. Sehingga tangan dari kursi belakang bisa lewat. Teman saya pernah mengalami, tasnya di silet dan HP-nya lenyap.
  4. Waspada dengan orang yang mengajak ngobrol ketika kereta sudah mulai sepi penumpang. Biasanya mereka ada beberapa orang. Satu orang mengajak bicara, sisanya beroperasi.

Tentang Afrizal Fadhilah

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia
Tulisan ini dipublikasikan di All About Indonesia dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s